
Assalamualaikum..
Fiuh, beberapa minggu ke belakang secara total menguras waktuku. Mulai dari pra seminar skripsi, proposal lomba, persyaratan beasiswa, semua sama saja. Tapi untunglah sudah kurampungkan.
Bersua lagi kita, Zuh!
Apa kabar dirimu? Kudengar selentingan beberapa orang, kau identik dengan kesederhanaan. Aku jadi bingung. Setahuku kau tidak demikian. Kalau memang menjadi temanmu harus menjadi sederhana, lalu bagaimana dengan Rasulullah yang melamar bunda Khadijah? Seratus unta menjadi mas kawin sependapatku tidak sederhana. Itu luar biasa lho. Entah berapa rupiah jika jumlah tersebut direpresentasikan dengan uang. Dan aku pun berpikir bahwa Rasul tetaplah temanmu.
Zuh, pernah ku berdialog dengan seorang teman. Dia bilang, dibanding terlihat sederhana, kau lebih sering terlihat meremehkan. Ups, bukan ku berghibah (gosip bareng ikhwah). Aku hanya ingin meluruskan selentingan tentangmu. Itu saja. Kemudian ku bergumam, hm.. memang kau terlalu sering meremehkan, haha!
Ketika kau mendapatkan laptop baru, kau meremehkannya..
Ketika kau menginap di hotel bintang lima, kau meremehkannya..
Ketika berjalan-jalan ke pulau seraya menyantap berbagai sea food, kau meremehkannya..
Mungkin jika seisi dunia diberikan kepadamu, kau akan tetap bersikap sama, meremehkannya..
Kau memang gila! Semua kau anggap remeh!
Tapi itu yang membuatku sayang padamu Zuh, kau tak pernah menganggap dunia sebagai hal yang menyilaukan. Kau selalu meremehkannya. Kau tak pernah menolak itu semua (dan kupikir kau memang tidak terlalu akrab dengan kesederhanaan). Kau menerimanya sebagai kebutuhan, namun kau tetap meremehkannya. Ah, segalanya terlihat kecil bagimu.
Oiya, masihkah kau ingat doa Umar bin Khattab semasa kita mengaji bersama dulu?
“Ya Allah, jadikanlah dunia dalam tangan-tangan kami dan jangan jadikan dunia dalam hati kami”
Jadikan dunia dalam tangan kami. Ini frase paling terngiang di telingaku. Komitmen kita bersama Zuh, untuk mengelola dunia ini menjadi lebih baik. Di tangan kita. Ya, di tangan kita. Aku sudah tidak anti lagi dengan dunia. Kalau masih anti, siapa yang mau mengurusnya? Segala pernak-pernik dunia kita terima, untuk menjadi tunggangan kita ke akhirat. Indah bukan?
Kemudian, jangan jadikan dunia dalam hati kami. Nah, ini yang ingin kubahas. Sebenarnya aku malu menyampaikannya, hehe.. Namun akhirnya kuberanikan diri. Aku ingin mengajakmu tinggal bersama Zuh. Ada tempat bagimu, yaitu di hatiku. Aku tak ingin hatiku dihuni oleh dunia, karena dia kan harusnya ada di tanganku. Aku hanya ingin ada kamu di hatiku, di sini, di tempat mungil ini. Tak layak kau bermain di tanganku. Nama Zuhud tidak cocok jika disandingkan dengan dunia. Kau tinggal di sini saja ya, jaga hatiku..
Zuh, setelah kau baca fragmen ini, kuharap kau jangan ke mana-mana. Kunci hatiku ada di atas pintu, kau langsung masuk saja dan anggap sebagai rumah sendiri.
Salam hangat sahabatmu.
Ps: Eh, kalau nanti si Dunia main ke hatiku, bilang saja, aku sedang tidak di rumah. Okay? ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar