
Ada dua waktu yang menurutku istimewa Zuh, yaitu fajar dan senja. Entah. Semburat emas dari fajar yang menyingsing dan senja yang terbenam selalu membuat hati terpikat. What a beautiful sunrise and sunset. Ditambah lagi, doa ma’tsurat pun dianjurkan untuk dilantunkan pada fajar dan senja. Kita pun tidak dianjurkan untuk tidur sebelum senja maupun seusai fajar. Bahkan rawatib pun, tidak ada setelah ashar yang menjelang senja dan setelah subuh yang mengiringi fajar.
Sekalipun demikian, jika aku harus memilih, aku akan memilih fajar. Yeah, I prefer dawn to dusk. Sekali lagi, entah. It’s such a magic time. Bayangkan Zuh, ketika kita membaca buku di waktu fajar, seakan teks yang terlihat langsung masuk ke pikiran kita, hingga lebih bertahan lama jika dibandingkan dengan waktu lain. Mungkin aku saja yang merasakannya, namun bisa juga hal ini dirasakan selainku. Begitu pula dengan kegiatan lain, seperti menghafal ayat Al-Qur’an misalnya. Seolah tiap ayat yang teruntai mengalir tanpa paksa ke memori kita ketika waktu yang dipilih adalah waktu fajar. Bisa jadi inilah hikmah mengapa Rasul menganjurkan umatnya untuk tidak tidur setelah subuh, karena saking berharganya waktu ini. Maka Zuh, aku akan tetapkan waktu fajar sebagai waktu anti tidur, kecuali jika malam yang dilalui terlewat tanpa tidur, he.. Akan ku manfaatkan waktu fajar sebagai waktu untuk mencapai tujuan, entah membaca, menulis, maupun menghafal. Ya, tujuanku akan kucapai di waktu subuh. Dan jika cara untuk mencapai tujuan dapat diwakili dengan kata “politik”, sederhananya aku akan berpolitik di waktu subuh. There will be politics in the dawn. Pun untuk berpolitik aku akan berpolitik, entah dengan meminum kopi atau dengan tidur lebih awal :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar