"Kegagalan dapat diumpamakan sebagai sebuah batu intan yang belum digosok. Semakin sering gagal, maka makin sering pula gosokan yang diberikan, dan akan makin bersinarlah batu intan tersebut" (Ary Ginanjar Agustian)

Sabtu, 09 Juli 2011

Muraqabah

Zuh, kuyakin kau tahu banyak tentang diriku, namun hanya kebaikanku. Mana tahu kau jika aku dan teman-teman membicarakanmu, mana tahu kau jika aku melakukan maksiat ketika tidak kuberitahukan kepadamu, mana tahu kau jika ternyata teman yang selama ini kau lihat baik ternyata justru jauh dari apa yang digariskan oleh syariat. Astaghfirullah. Jika hanya dilihat olehmu, mungkin aku bisa jadi terlihat sangat shalih, bahkan muslih. Aku bisa saja melakukan hal-hal aneh tidak penting tanpa sepengetahuanmu, kusembunyikan dalam sunyi tiap aib, karena toh kau tidak menyaksikannya. Mudah sekali Zuh! Mudah sekali bagiku mencetak dosa jika patokanku hanya dirimu sebagai saksi, tanpa mengindahkan yang lain.

Segala puji memang hanya untuk-Nya, Zuh. Ia bukan hanya mencipta, namun juga membuat sistem yang compatible bagi ciptaan. Rasakanlah kanan kirimu Zuh. Rasakan. Mereka senantiasa setia mendampingimu, mendampingiku, mendampingi setiap kita. Raqib dan Atid terus tanpa jeda mencatat tiap amal terkecil kita, sejak terbangunnya kita dari tidur hingga tertidur kembali. Tiap amal unggulan kita mereka catat, begitu pula dengan compang-campingnya akhlak kita. Dan catatnya mereka bukan hanya tulis, lapor, dan kemudian rampung. Bukan hanya itu. Mereka bagaikan merekam, Zuh. Merekam untuk apa? Ya jelas merekam untuk memutar kembali. Rekaman itu akan diputar kembali nanti di hari akhir, disaksikan oleh seluruh ciptaan-Nya. Amal kita (yang belum tentu ikhlas), ibadah kita (yang belum tentu sesuai dengan sunnahnya), kebaikan kita (yang belum tentu telah bebas dari berbagai penyakit hati) akan ditayangkan dan disaksikan oleh semua. Begitu pula dengan catatan buruk kita Zuh, diputar tanpa sensor dalam tayangan hari akhir. Aku yang pernah membicarakan kejelakanmu, aku yang pernah bermaksiat dalam kesendirian, aku yang serba lain yang tidak pernah dilihat yang lain, semua akan tertayang. Tak bisa diperkirakan nanti berapa banyak manusia yang tenggelam Zuh, tenggelam dalam keringat sendiri saking malunya. Malu! Malu karena terbongkar sudah semua yang ditutupi topeng selama ini.

Zuh, mulai saat ini kita bayangkan rasa malu itu. Malu sejak sekarang Zuh. Malu jika melakukan tiap maksiat sebesar zarrah sekalipun. Malu melakukan tiap hal itu karena Raqib dan Atid senantiasa tak pernah lelah mencatat. Malu bahkan untuk berniat buruk bahkan dalam kesendirian karena Allah Maha Melihat. Maka kini biarkan satu di antara lima cara mencapai taqwa itu kita terapkan, biarkan diri kita diliputi muraqabah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar