
Menyenangkan juga hari ini Zuh. Ketika teman-temanku yang lain harus mengikuti wawancara tahap 2, aku langsung mendapatkan tiket emas hanya dengan menghadiri wawancara tahap 1. Tak terbayang bagaimana rasanya menunggu sedemikian lama jika jumlah antrian mencapai jumlah 300 orang ke atas. Alhamdulillah, berarti aku dapat berkonsentrasi menunaikan skripsi, menjalankan amanah, mencetak berbagai prestasi, serta melakukan banyak kebaikan tanpa harus memikirkan biaya.
Hari ini telah diadakan wawancara tahap 2 untuk calon penerima beasiswa Karya Salemba Empat Universitas Indonesia. Tahap 1 sudah berlangsung jauh hari sebelumnya, dengan diriku sebagai salah seorang peserta di dalamnya. Cukup menarik memang, mengingat bahwa pewawancara untuk tahap 1 tak lain adalah temanku juga. Kami berbincang, mengalir. Tak jauh dari itu. Berakhir kemudian dengan diiringi kelegaan hati, karena pikirku tinggal menunggu tahap 2 saja. Dan jauh lebih tenang rasanya, ketika tahu namaku termasuk satu di antara sekian banyak pelamar yang lolos tanpa wawancara tahap 2. Aku pun sekarang menjadi penerima beasiswa bergengsi itu untuk periode ketiga kalinya. Yah, lumayan. Sedikit guratan kecewa ibu dan ayah ketika kuberitahukan bahwa kuingin lulus tidak tepat waktu akhirnya terbayar. Setidaknya kini aku bisa fokus berkarya tanpa harus meluangkan waktuku lagi untuk mencari nafkah, dan beban di pundak orang tuaku pun berkurang sedikit, ketika beasiswa ini sudah dipastikan kuterima.
Insya Allah ku akan tetap menjadi temanmu Zuh. Besarnya beasiswa yang kudapat bukan berarti kan kugunakan untuk bersenang-senang semata, melainkan kumanfaatkan demi kinerja yang baik. Jika dengan makanan yang lebih sehat dan bergizi kita bisa lebih optimal dalam menjalankan kehidupan keseharian, mengapa harus pelit hingga makan terus-menerus “sederhana” yang misalnya mengakibatkan tersendatnya potensi diri untuk terkucur bagi kebaikan sesama? Jika dengan fasilitas serba berkecukupan mampu membuat seluruh organ tubuh kita tergerak untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu yang baik dan produktif, mengapa harus menghambat dengan seadanya sarana yang berujung kepada mandulnya pencapaian? Zuhud tak berarti acuh dengan dunia Zuh. Zuhud lebih tepat dengan mendayagunakan dunia secara optimal dengan kemampuan yang telah Allah karuniakan, demi kepentingan kebaikan, tanpa harus diperbudak olehnya. Ya, aku kan tetap menjadi temanmu. Dan kau pun sebagai teman tolong ingatkan aku, bahwa dalam rezeki yang kita dapatkan, selalu ada bagian bagi mereka yang membutuhkan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar