"Kegagalan dapat diumpamakan sebagai sebuah batu intan yang belum digosok. Semakin sering gagal, maka makin sering pula gosokan yang diberikan, dan akan makin bersinarlah batu intan tersebut" (Ary Ginanjar Agustian)

Kamis, 14 Juli 2011

Belajar Mencintai Dari Hal Yang Sederhana Part 1

“Mencintai bukanlah hal yang sederhana, namun dari hal sederhanalah kau bisa memiliki rasa cinta”

Ada benarnya juga Zuh, kalimat dari temanku tersebut. Suratku kali ini akan bercerita tentang masa laluku, tentang jalan yang kulalui hingga ku menjadi sosok yang kau kenal selama ini, tentang kaitannya dengan kalimat tersebut, dan tentang syukurku akan jalan yang Ia gariskan.

Jika kau tahu Zuh, dulu aku sangat tidak suka mengaji. Ini saat yang paling kuhindari, yaitu mengaji. Berikan aku seribu pilihan kegiatan, asalkan bukan mengaji. Mungkin itu sederhananya pikiranku saat itu. Ketika masa TK, aku selalu ingin bolos di hari Jumat, karena yang dipelajari adalah mengaji, membaca Al-Fatihah, melafadzkan doa, dan hal sejenisnya. Apalagi memikirkan dakwah, sepertinya kata itu tidak ada dalam kamusku. Surprising, isn’t it? Begitulah, semua berjalan demikian hingga ku memasuki masa kelas 2 SMP, ketika seorang teman mengajakku mengaji dengan metode yang berbeda.

Hal unik yang pertama kali kudengar dari ajakan temanku adalah bahwa kita tidak usah membayar biaya apa pun untuk mengikuti pengajian ini. Kau tahu Zuh, bahwa pengajian sebelumnya mensyaratkan biaya, namun tidak untuk pengajian yang satu ini. Aku pun bertanya dalam hati, mengapa guruku tidak menarik biaya dari apa yang ia kerahkan? Tapi itulah keikhlasan Zuh, di kemudian hari aku baru menyadari bahwa dalam tiap kebaikan yang kita lakukan, niat menjadi faktor penentu utama. Dan niat beliau untuk memperbaiki keadaan masyarakat mampu membuatnya meluangkan waktu secara cuma-cuma, hanya mengharap ridha Allah SWT.

Di tengah perjalanan, guru kami menawarkan sesuatu hal yang sederhana, yang akhirnya berujung besar menurutku, yaitu tawaran untuk memberikan penampilan nasyid. Di awal, aku agak menolak. Wajar saja, menyanyi di atas panggung itu sangat bukan diriku Zuh. Aku yang sangat pemalu (hehe) harus menyanyi? Hah! Untung saja teman-temanku mengiyakan. Alhasil, kami pun tampil seadanya dengan harapan bahwa penampilan kami yang pertama adalah penampilan yang terakhir. Walaupun kemudian, ternyata apa yang menunggu kami di depan jauh lebih menantang dibandingkan hari itu.

Waktu pun terus berjalan, kami pun bertemu dengan guru mengaji yang lain (kebanyakan pengajian gini nih, he..). Beliau memperkenalkan kami akan konsep seutuhnya tentang pembinaan diri dalam islam, bahwa seorang manusia yang memiliki tiga potensi, yaitu jasad, pikiran, dan ruh seyogyanya mengoptimalkan potensi tersebut dalam sebuah takaran yang seimbang. Pembinaan seorang muslim tidak terus-menerus mengaji saja, karena potensi kita bukan hanya ruh. Pembinaan sejati seorang muslim adalah kombinasi body, mind, and soul, sehingga dirinya dapat bermanfaat secara menyeluruh bagi masyarakat. Kami terus terbina, dan ikatan binaan kami adalah nasyid. Benar terkaanmu Zuh, aku masih tidak menyukai mengaji. Masih berat rasanya. Namun karena aku adalah bagian dari tim nasyid ini, dan aku merasa bahwa persaudaraan di antara kami sudah terlanjur kuat, maka mau tak mau aku pun harus terus berada dalam pengajian. Dulu masih terasa berat. Tapi tunggu saja, hingga kuceritakan bagian menarik lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar