"Kegagalan dapat diumpamakan sebagai sebuah batu intan yang belum digosok. Semakin sering gagal, maka makin sering pula gosokan yang diberikan, dan akan makin bersinarlah batu intan tersebut" (Ary Ginanjar Agustian)

Senin, 18 Juli 2011

Al-Baqarah, Chiefdom Madinah, Appraisal Inquiry: Laa ikraaha fid diin

“Surah Al-Baqarah: 256 yang mengatakan ‘Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam’ adalah merupakan salah satu surah yang turun pada periode awal, waktu Muhammad masih tidak memiliki kekuasaan dan berada di bawah ancaman”

Kalimat di atas bukan perkataanku Zuh, melainkan Paus Benedictus XVI. Logikanya, kalimat itu menyiratkan bahwa Islam disebarkan tanpa paksa hanya ketika Rasulullah berada dalam keadaan powerless. Dan sebaliknya, ketika sudah memiliki kekuatan (sebagaimana yang diopinikan oleh kaum evangelist), Islam disebarkan dengan kekerasan dan pedang. Hm.. coba kita telaah kalimat ini Zuh.

Kita berhadapan dengan surah Al-Baqarah. Surah ini memiliki ayat yang terbilang banyak jumlahnya, 286 ayat. Surah yang banyak ayatnya biasanya dikategorikan sebagai surah Madaniyah. Yah, memang tidak hanya dengan jumlah ayat patokan kita, tetapi juga dengan penelusuran secara historis. And what a fluke, Al-Baqarah memang surah Madaniyah J

Surah Madaniyah berarti surah yang diturunkan di Madinah. Madinah saat itu bukan tempat Rasul disiksa, diancam, atau dianiaya. Madinah adalah tempat di mana Rasul membangun komunitas yang memiliki otonomi kuat. Nah, berarti kalau kita hubungkan satu demi satu logika yang kita untai di awal, kalimat “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam” diturunkan ketika Rasul sudah memiliki kekuatan militer yang memungkinkan baginya untuk bertarung dengan pihak lain. Padahal sudah kuat ya Zuh, tapi Islam tetap tidak disebarluaskan dengan cara paksa. Aku jadi bingung mengapa masih ada orang yang mengatakan bahwa Islam disebarluaskan dengan kekerasan dan pedang. Toh, pemeluk Islam adalah orang yang memiliki kesadaran sendiri, tanpa dipaksa oleh penyebarnya. Hah, mungkin dia perlu ikut bermain logika bersama kita.

Oh, mungkin mereka perlu dikisahkan satu fragmen tambahan, tentang ditaklukkannya Mekah oleh Rasul dan para shahabat. Rasul malah berkata “Fadzhabuu fa antum al-aan at-thulaqa” (Pergilah, kalian sekarang sudah bebas). Kau dapat logika tambahannya Zuh?

Kamis, 14 Juli 2011

Unique Term #2: Placebo

A placebo is a sham or simulated medical intervention. Sometimes patients given a placebo treatment will have a perceived or actual improvement in a medical condition, a phenomenon commonly called the placebo effect.

In medical research, placebos are given as control treatments and depend on the use of measured deception. Common placebos are inert tablets, sham surgery, and other procedures based on false information. However, placebos can also have a surprisingly positive effect on a patient who knows that the given treatment is without any active drug, as compared with a control group who knowingly did not get a placebo.

In one common placebo procedure, however, a patient is given an inert pill, told that it may improve his/her condition, but not told that it is in fact inert. Such an intervention may cause the patient to believe the treatment will change his/her condition; and this belief may produce a subjective perception of a therapeutic, causing the patient to feel their condition has improved. This phenomenon is known as the placebo effect.

Belajar Mencintai Dari Hal Yang Sederhana Part 1

“Mencintai bukanlah hal yang sederhana, namun dari hal sederhanalah kau bisa memiliki rasa cinta”

Ada benarnya juga Zuh, kalimat dari temanku tersebut. Suratku kali ini akan bercerita tentang masa laluku, tentang jalan yang kulalui hingga ku menjadi sosok yang kau kenal selama ini, tentang kaitannya dengan kalimat tersebut, dan tentang syukurku akan jalan yang Ia gariskan.

Jika kau tahu Zuh, dulu aku sangat tidak suka mengaji. Ini saat yang paling kuhindari, yaitu mengaji. Berikan aku seribu pilihan kegiatan, asalkan bukan mengaji. Mungkin itu sederhananya pikiranku saat itu. Ketika masa TK, aku selalu ingin bolos di hari Jumat, karena yang dipelajari adalah mengaji, membaca Al-Fatihah, melafadzkan doa, dan hal sejenisnya. Apalagi memikirkan dakwah, sepertinya kata itu tidak ada dalam kamusku. Surprising, isn’t it? Begitulah, semua berjalan demikian hingga ku memasuki masa kelas 2 SMP, ketika seorang teman mengajakku mengaji dengan metode yang berbeda.

Hal unik yang pertama kali kudengar dari ajakan temanku adalah bahwa kita tidak usah membayar biaya apa pun untuk mengikuti pengajian ini. Kau tahu Zuh, bahwa pengajian sebelumnya mensyaratkan biaya, namun tidak untuk pengajian yang satu ini. Aku pun bertanya dalam hati, mengapa guruku tidak menarik biaya dari apa yang ia kerahkan? Tapi itulah keikhlasan Zuh, di kemudian hari aku baru menyadari bahwa dalam tiap kebaikan yang kita lakukan, niat menjadi faktor penentu utama. Dan niat beliau untuk memperbaiki keadaan masyarakat mampu membuatnya meluangkan waktu secara cuma-cuma, hanya mengharap ridha Allah SWT.

Di tengah perjalanan, guru kami menawarkan sesuatu hal yang sederhana, yang akhirnya berujung besar menurutku, yaitu tawaran untuk memberikan penampilan nasyid. Di awal, aku agak menolak. Wajar saja, menyanyi di atas panggung itu sangat bukan diriku Zuh. Aku yang sangat pemalu (hehe) harus menyanyi? Hah! Untung saja teman-temanku mengiyakan. Alhasil, kami pun tampil seadanya dengan harapan bahwa penampilan kami yang pertama adalah penampilan yang terakhir. Walaupun kemudian, ternyata apa yang menunggu kami di depan jauh lebih menantang dibandingkan hari itu.

Waktu pun terus berjalan, kami pun bertemu dengan guru mengaji yang lain (kebanyakan pengajian gini nih, he..). Beliau memperkenalkan kami akan konsep seutuhnya tentang pembinaan diri dalam islam, bahwa seorang manusia yang memiliki tiga potensi, yaitu jasad, pikiran, dan ruh seyogyanya mengoptimalkan potensi tersebut dalam sebuah takaran yang seimbang. Pembinaan seorang muslim tidak terus-menerus mengaji saja, karena potensi kita bukan hanya ruh. Pembinaan sejati seorang muslim adalah kombinasi body, mind, and soul, sehingga dirinya dapat bermanfaat secara menyeluruh bagi masyarakat. Kami terus terbina, dan ikatan binaan kami adalah nasyid. Benar terkaanmu Zuh, aku masih tidak menyukai mengaji. Masih berat rasanya. Namun karena aku adalah bagian dari tim nasyid ini, dan aku merasa bahwa persaudaraan di antara kami sudah terlanjur kuat, maka mau tak mau aku pun harus terus berada dalam pengajian. Dulu masih terasa berat. Tapi tunggu saja, hingga kuceritakan bagian menarik lainnya.

Senin, 11 Juli 2011

Unique Term #1: Smith–Magenis Syndrome

Smith–Magenis Syndrome (SMS) is a developmental disorder that affects many parts of the body. The major features of this condition include mild to moderate mental retardation, distinctive facial features, sleep disturbances, and behavioral problems. Smith-Magenis syndrome affects an estimated 1 in 25,000 individuals.

The syndrome is due to an abnormality in the short (p) arm of chromosome 17 and is sometimes called the 17p- syndrome.

Quote #2

"Kegagalan dapat diumpamakan sebagai sebuah batu intan yang belum digosok. Semakin sering gagal, maka makin sering pula gosokan yang diberikan, dan akan makin bersinarlah batu intan tersebut" (Ary Ginanjar Agustian)

Politics In The Dawn

Ada dua waktu yang menurutku istimewa Zuh, yaitu fajar dan senja. Entah. Semburat emas dari fajar yang menyingsing dan senja yang terbenam selalu membuat hati terpikat. What a beautiful sunrise and sunset. Ditambah lagi, doa ma’tsurat pun dianjurkan untuk dilantunkan pada fajar dan senja. Kita pun tidak dianjurkan untuk tidur sebelum senja maupun seusai fajar. Bahkan rawatib pun, tidak ada setelah ashar yang menjelang senja dan setelah subuh yang mengiringi fajar. Aku jadi penasaran, “sihir” macam apa yang Ia titipkan kepada dua fragmen waktu ini. Aku makin penasaran dibuat.

Sekalipun demikian, jika aku harus memilih, aku akan memilih fajar. Yeah, I prefer dawn to dusk. Sekali lagi, entah. It’s such a magic time. Bayangkan Zuh, ketika kita membaca buku di waktu fajar, seakan teks yang terlihat langsung masuk ke pikiran kita, hingga lebih bertahan lama jika dibandingkan dengan waktu lain. Mungkin aku saja yang merasakannya, namun bisa juga hal ini dirasakan selainku. Begitu pula dengan kegiatan lain, seperti menghafal ayat Al-Qur’an misalnya. Seolah tiap ayat yang teruntai mengalir tanpa paksa ke memori kita ketika waktu yang dipilih adalah waktu fajar. Bisa jadi inilah hikmah mengapa Rasul menganjurkan umatnya untuk tidak tidur setelah subuh, karena saking berharganya waktu ini. Maka Zuh, aku akan tetapkan waktu fajar sebagai waktu anti tidur, kecuali jika malam yang dilalui terlewat tanpa tidur, he.. Akan ku manfaatkan waktu fajar sebagai waktu untuk mencapai tujuan, entah membaca, menulis, maupun menghafal. Ya, tujuanku akan kucapai di waktu subuh. Dan jika cara untuk mencapai tujuan dapat diwakili dengan kata “politik”, sederhananya aku akan berpolitik di waktu subuh. There will be politics in the dawn. Pun untuk berpolitik aku akan berpolitik, entah dengan meminum kopi atau dengan tidur lebih awal :p

Minggu, 10 Juli 2011

Galau?

Ini kata yang menjadi top hits dewasa ini Zuh. Galau. Hehe.. Kata yang erat kaitannya dengan kalut, bimbang, labil, gelisah, bingung, kacau, kusut, panik, was-was, cemas, dan resah. Hm.. Agaknya konotasi yang timbul jauh dari kesan positif. Lebih khusus lagi, galau sekarang lebih dikaitkan dengan pernikahan, haha.. Bayangkan Zuh, beberapa minggu ke belakang penuh dengan agenda pernikahan teman-teman sejawat. Itulah agenda akhir pekan kami selama ini, menghadiri undangan resepsi seraya mengucapkan “Barakallahu lakuma, wa baraka alaikuma, wa jamaa bainakuma fi khair”. Terus terulang hingga tulisan ini dibuat. Sudah sepantasnya bagi kami selaku sesama saudara merasa bahagia ketika ada yang menggenapkan agama satu demi satu. Tapi kadang kebahagiaan ini diiringi dengan rasa lain, yaitu galau. Bahasa halusnya, kadang kami terinspirasi untuk melakukan kebaikan serupa as soon as possible. Bahasa kurang baiknya, perasaan ini cukup menggelayuti pikiran hingga bahkan mungkin mengganggu totalitas kami dalam mengoptimalkan waktu dan sumber daya. Kadang waktu luang kami diisi dengan FGD (Focus Galau Discussion) atau LGD (Leaderless Galau Discussion). Apakah kau menemukan gejala serupa Zuh?

Biasanya orang yang galau akan berpikir tentang menikah. Kata ini bukan kata yang sederhana Zuh, sungguh jauh dari sederhana. Menikah penuh dengan lika-liku, suka duka, serta berbagai cerita yang kan siap menghampiri. Menikah bukan hanya tentang mengubah status sosial kita, melestarikan keturunan, atau melampiaskan kebutuhan biologis. Jelas jauh dari sekedar itu. Menikah menuntut kedewasaan kita, karena hidup kita tak lagi sendiri. Menurutmu, apa itu kedewasaan Zuh? Apakah dewasa dibahasakan dengan sikap yang calm, charming, cool, dan tidak urakan saja?

Menurutku dewasa tak harus demikian Zuh. Dewasa tak harus melulu tampil berkharisma, jaim, atau tak lagi membicarakan sesuatu yang bersifat kenakak-kanakan. Dewasa tak berarti tak boleh menjadi orang yang periang, menyukai dongeng serta cerita kartun yang ditujukan bagi anak-anak kecil, atau bercanda mencairkan suasana. Bukan itu Zuh. Sependapatku itu hanya menunjukkan preferensi karakter. Karakter sanguinis akan tetap ceria dan riang hingga ia tua. Karakter melankolis akan mudah tersentuh kemudian menangis sekalipun umurnya tak lagi muda. Kapan pun karakter plegmatis senantiasa menyukai kedamaian dan menghindari konflik. Karakter koleris juga, sikap dominan dan tegasnya yang kadang berujung egois akan tetap mewarnai walaupun sudah di senja usia.

Dewasa jauh dari sekedar penampilan sikap Zuh. Sikap seseorang bisa bervariasi, dan itu belum cukup untuk menunjukkan kedewasaan. Aku lebih suka mengaitkan kedewasaan dengan kemampuan seseorang untuk memenuhi hak dan kewajiban sesuai umur serta perannya. Seorang mahasiswa yang dewasa adalah ia yang tahu perannya, yaitu sebagai agent of change, moral force, dan iron stock. Mahasiswa yang dewasa tidak digambarkan oleh mereka yang tak lagi menonton film anak-anak, berkharisma dalam berbicara, dan tidak pernah menyukai dongeng, sedangkan ketika melihat saudaranya yang sedang menderita hatinya tak tergugah. Aku lebih suka menganggap seorang dewasa ketika ia mampu menggerakkan seluruh keunggulan yang ia punya untuk kebaikan lingkungan sekitar. Aku lebih suka memberikan gelar dewasa kepada seseorang jika ia mampu mengendalikan kata, sikap, serta pembawaan agar tak menyakiti hati saudaranya. Aku menganggap seseorang lebih dewasa daripada yang lain ketika ia mampu menjaga teguh komitmennya dalam sebuah organisasi dan mempertahankan kontribusi dalam bingkai aturan serta kesepakatan yang telah disusun bersama di awal kepengurusan. Menurutku itulah arti dewasa Zuh, mampu menunaikan hak dan kewajiban yang ia punya sesuai dengan umur dan perannya.

Berarti kalau begitu, jika galau erat kaitannya dengan menikah, dan menikah erat kaitannya dengan kedewasaan, sedangkan kedewasaan dalam menikah berkaitan dengan pemenuhan hak dan kewajiban sebagai seorang suami maupun istri, maka diskusi kita semakin menarik Zuh. Sederhananya, orang yang galau normalnya sadar bahwa kegalauan mereka harusnya disandingkan dengan kesiapan mereka untuk memenuhi hak dan kewajiban ketika sudah berumah tangga nanti. Hm.. mudahkah itu?

Beruntunglah aku memiliki teman sepertimu Zuh, teman yang selalu bisa diajak merenung. Berbicara mengenai pemenuhan hak dan kewajiban tersebut serasa masih jauh untuk direalisasikan secara ideal. Mengapa? Jangankan melompat ke ranah berkeluarga, apa yang menjadi kewajiban kita sekarang pun rasanya menumpuk menggunung sedemikian banyaknya. Kita yang kadang menyakiti perasaan saudara, kita yang mungkin mengabaikan perintah orang tua, kita yang tak jarang tak peduli dengan kesusahan sesama, kita yang sangat sering sekali mengabaikan amanah kita di lembaga, kepanitiaan, maupun komunitas yang kita ikuti. Itu semua kewajiban kita Zuh. Masihkah kau berpikir menunaikan kewajiban dalam berumah tangga adalah hal yang mudah ketika nyatanya keadaan kita sekarang seperti ini? Masih jauh rasanya Zuh, masih jauh diri kita dari kata layak menggalau mengingat kondisi kita yang cacat dalam memenuhi kewajiban yang tergolong masih sederhana ini .

Menikah penuh dengan waktu berbagi, merelakan pundak untuk menjadi tempat bersandar bagi belahan hati kita, merelakan pikiran dan tenaga untuk membangun keluarga yang akan menjadi awal bagi perkembangan calon buah hati, serta menjadi ajang pengejawantahan hak dan kewajiban bagi suami maupun istri. Bukan hal yang sederhana memang. Padahal nyatanya ada hal yang sederhana menunggu di depan mata kita sekarang. Ketika galau mulai menusuk qalbu, aku kan selalu ingat akan tulisan ini, bahwa aku pun dituntut untuk memenuhi kewajiban yang sekarang dilimpahkan. Ini menjadi ajang kita untuk belajar Zuh. Belajar memenuhi kewajiban kita yang berkaitan dengan orang lain, sebelum memenuhi kewajiban kepada pasangan kita nanti. Tapi jangan sampai menunggu menjadi orang yang “sempurna” dalam memenuhi amanah sekarang, baru kemudian menikah. Menikah besok sore jika memungkinkan dan mampu ya tidak usah ditunda, he.. Segerakanlah Zuh, segerakanlah menggenapkan agama sambil menggenapkan kewajiban dan cita, sebelum kita terlanjur menggenapkan usia..

Sabtu, 09 Juli 2011

Lebih Fokus dalam Berkarya

Menyenangkan juga hari ini Zuh. Ketika teman-temanku yang lain harus mengikuti wawancara tahap 2, aku langsung mendapatkan tiket emas hanya dengan menghadiri wawancara tahap 1. Tak terbayang bagaimana rasanya menunggu sedemikian lama jika jumlah antrian mencapai jumlah 300 orang ke atas. Alhamdulillah, berarti aku dapat berkonsentrasi menunaikan skripsi, menjalankan amanah, mencetak berbagai prestasi, serta melakukan banyak kebaikan tanpa harus memikirkan biaya. Orang tuaku pun tak perlu kubebani banyak-banyak lagi karena kebutuhanku dapat terpenuhi secara mandiri.

Hari ini telah diadakan wawancara tahap 2 untuk calon penerima beasiswa Karya Salemba Empat Universitas Indonesia. Tahap 1 sudah berlangsung jauh hari sebelumnya, dengan diriku sebagai salah seorang peserta di dalamnya. Cukup menarik memang, mengingat bahwa pewawancara untuk tahap 1 tak lain adalah temanku juga. Kami berbincang, mengalir. Tak jauh dari itu. Berakhir kemudian dengan diiringi kelegaan hati, karena pikirku tinggal menunggu tahap 2 saja. Dan jauh lebih tenang rasanya, ketika tahu namaku termasuk satu di antara sekian banyak pelamar yang lolos tanpa wawancara tahap 2. Aku pun sekarang menjadi penerima beasiswa bergengsi itu untuk periode ketiga kalinya. Yah, lumayan. Sedikit guratan kecewa ibu dan ayah ketika kuberitahukan bahwa kuingin lulus tidak tepat waktu akhirnya terbayar. Setidaknya kini aku bisa fokus berkarya tanpa harus meluangkan waktuku lagi untuk mencari nafkah, dan beban di pundak orang tuaku pun berkurang sedikit, ketika beasiswa ini sudah dipastikan kuterima.

Insya Allah ku akan tetap menjadi temanmu Zuh. Besarnya beasiswa yang kudapat bukan berarti kan kugunakan untuk bersenang-senang semata, melainkan kumanfaatkan demi kinerja yang baik. Jika dengan makanan yang lebih sehat dan bergizi kita bisa lebih optimal dalam menjalankan kehidupan keseharian, mengapa harus pelit hingga makan terus-menerus “sederhana” yang misalnya mengakibatkan tersendatnya potensi diri untuk terkucur bagi kebaikan sesama? Jika dengan fasilitas serba berkecukupan mampu membuat seluruh organ tubuh kita tergerak untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu yang baik dan produktif, mengapa harus menghambat dengan seadanya sarana yang berujung kepada mandulnya pencapaian? Zuhud tak berarti acuh dengan dunia Zuh. Zuhud lebih tepat dengan mendayagunakan dunia secara optimal dengan kemampuan yang telah Allah karuniakan, demi kepentingan kebaikan, tanpa harus diperbudak olehnya. Ya, aku kan tetap menjadi temanmu. Dan kau pun sebagai teman tolong ingatkan aku, bahwa dalam rezeki yang kita dapatkan, selalu ada bagian bagi mereka yang membutuhkan..

Muraqabah

Zuh, kuyakin kau tahu banyak tentang diriku, namun hanya kebaikanku. Mana tahu kau jika aku dan teman-teman membicarakanmu, mana tahu kau jika aku melakukan maksiat ketika tidak kuberitahukan kepadamu, mana tahu kau jika ternyata teman yang selama ini kau lihat baik ternyata justru jauh dari apa yang digariskan oleh syariat. Astaghfirullah. Jika hanya dilihat olehmu, mungkin aku bisa jadi terlihat sangat shalih, bahkan muslih. Aku bisa saja melakukan hal-hal aneh tidak penting tanpa sepengetahuanmu, kusembunyikan dalam sunyi tiap aib, karena toh kau tidak menyaksikannya. Mudah sekali Zuh! Mudah sekali bagiku mencetak dosa jika patokanku hanya dirimu sebagai saksi, tanpa mengindahkan yang lain.

Segala puji memang hanya untuk-Nya, Zuh. Ia bukan hanya mencipta, namun juga membuat sistem yang compatible bagi ciptaan. Rasakanlah kanan kirimu Zuh. Rasakan. Mereka senantiasa setia mendampingimu, mendampingiku, mendampingi setiap kita. Raqib dan Atid terus tanpa jeda mencatat tiap amal terkecil kita, sejak terbangunnya kita dari tidur hingga tertidur kembali. Tiap amal unggulan kita mereka catat, begitu pula dengan compang-campingnya akhlak kita. Dan catatnya mereka bukan hanya tulis, lapor, dan kemudian rampung. Bukan hanya itu. Mereka bagaikan merekam, Zuh. Merekam untuk apa? Ya jelas merekam untuk memutar kembali. Rekaman itu akan diputar kembali nanti di hari akhir, disaksikan oleh seluruh ciptaan-Nya. Amal kita (yang belum tentu ikhlas), ibadah kita (yang belum tentu sesuai dengan sunnahnya), kebaikan kita (yang belum tentu telah bebas dari berbagai penyakit hati) akan ditayangkan dan disaksikan oleh semua. Begitu pula dengan catatan buruk kita Zuh, diputar tanpa sensor dalam tayangan hari akhir. Aku yang pernah membicarakan kejelakanmu, aku yang pernah bermaksiat dalam kesendirian, aku yang serba lain yang tidak pernah dilihat yang lain, semua akan tertayang. Tak bisa diperkirakan nanti berapa banyak manusia yang tenggelam Zuh, tenggelam dalam keringat sendiri saking malunya. Malu! Malu karena terbongkar sudah semua yang ditutupi topeng selama ini.

Zuh, mulai saat ini kita bayangkan rasa malu itu. Malu sejak sekarang Zuh. Malu jika melakukan tiap maksiat sebesar zarrah sekalipun. Malu melakukan tiap hal itu karena Raqib dan Atid senantiasa tak pernah lelah mencatat. Malu bahkan untuk berniat buruk bahkan dalam kesendirian karena Allah Maha Melihat. Maka kini biarkan satu di antara lima cara mencapai taqwa itu kita terapkan, biarkan diri kita diliputi muraqabah..

Jumat, 08 Juli 2011

Quote #1

"Dalam dekapan ukhuwah, meninggalkan renungan untuk saudara adalah sebuah karya dan keterampilan yang penuh makna" (Salim A. Fillah)

Kamis, 07 Juli 2011

Tentang "Little Things About Zuh"

Assalamualaikum Zuh!

Agaknya hari ini kan cukup bersejarah nanti, karena akhirnya aku mulai membuat blog. Sebenarnya sudah cukup lama sih, sejak tahun 2009. Namun dulu ku sekedar membuat, tanpa mengembangkan. Alhasil, jadilah blog yang kosong melompong hingga dua tahun lamanya, he.. Ok, itu cerita lama. Mulai sekarang aku akan giat menulis di blog ini, karena ku teringat akan perkataan Ali bin Ali Thalib bahwa ilmu itu seperti kuda. Jika tidak diikat, ia akan lari entah ke mana. Maka akan kuikat tiap ilmu yang melintas di memori dengan menuliskannya di blog ini. Mungkin saja suatu saat nanti kan kubukukan semua tulisan di blog ini dan kuhadiahkan sebagai mahar bagi istri tercinta, halah..

Bisa jadi banyak yang bertanya, mengapa blog ini berjudul “Little Things About Zuh”? Hm.. pertanyaan yang wajar, karena judul blog ini memang tak wajar. Blog ini nantinya akan bercerita tentangmu Zuh, tentang dirimu. Teman khayalan? Sepertinya tidak demikian. Kau tentu tahu, bahwa saudara dalam iman itu satu sama lain bagaikan cermin yang saling memantulkan bayangan. Jika mereka lihat diriku, maka mereka akan melihatmu. Sebaliknya, jika mereka melihatmu, maka sesungguhnya mereka sedang melihat gambaran diriku. Ya, cerminan diriku terpantul olehmu, saudara seiman yang senantiasa mengingatkanku untuk terus memperbaiki diri dan melakukan amalan yang shalih, baik dalam niat maupun dalam cara.

Jadi teringat kembali akan nama lengkapmu. Aghnia Zuhuda. Sungguh nama yang elok. Aghnia yang berarti doa agar menjadi orang yang kaya. Doa itu harapan Zuh, dan namamu telah menyiratkan harapan kita untuk menjadi orang yang kaya. Kayanya kita tentu meliputi iman, ilmu, serta amal. Kayanya kita juga termasuk dalam ranah materi dunia, agar dunia dapat kita kelola menjadi tempat hidup yang lebih baik, agar keselamatan yang dimaksud Islam dapat dirasakan oleh setiap insan, baik selamat di dunia maupun di akhirat. Dan nama Zuhuda-mu juga penuh harap. Meremehkan dunia, harapan yang dapat mengimbangi harapan pertama kita. Kita ingin agar silau gemilau dunia tak sampai menyusup ke hati kita. Karena ah, biar hanya Allah yang menguasai hati kita, biarlah kau jaga tiap hati agar tetap menunduk tawadhu kepada-Nya, biarlah kau remehkan tiap rayuan dunia yang tak henti menghampiri kita.

Zuh, semoga apa yang kita gambarkan dapat memberikan manfaat bagi yang lain. Semoga kebermanfaatan yang bercampur dengan ilmu nantinya dapat menjadi amalan yang tak terputus bahkan hingga kita menutup usia. Ilmu yang bermanfaat, biarkan blog ini menjadi perantara untuknya, sedangkan amal jariyah dan anak shalih yang senantiasa mendoakan biar kita urus di tempat lain saja, he..

Sampai bersua nanti Zuh, salam untuk hatiku. Wassalamualaikum.

Rabu, 06 Juli 2011

Zuh, Kau Tinggal di Sini Saja..

Assalamualaikum..

Fiuh, beberapa minggu ke belakang secara total menguras waktuku. Mulai dari pra seminar skripsi, proposal lomba, persyaratan beasiswa, semua sama saja. Tapi untunglah sudah kurampungkan.

Bersua lagi kita, Zuh!

Apa kabar dirimu? Kudengar selentingan beberapa orang, kau identik dengan kesederhanaan. Aku jadi bingung. Setahuku kau tidak demikian. Kalau memang menjadi temanmu harus menjadi sederhana, lalu bagaimana dengan Rasulullah yang melamar bunda Khadijah? Seratus unta menjadi mas kawin sependapatku tidak sederhana. Itu luar biasa lho. Entah berapa rupiah jika jumlah tersebut direpresentasikan dengan uang. Dan aku pun berpikir bahwa Rasul tetaplah temanmu.

Zuh, pernah ku berdialog dengan seorang teman. Dia bilang, dibanding terlihat sederhana, kau lebih sering terlihat meremehkan. Ups, bukan ku berghibah (gosip bareng ikhwah). Aku hanya ingin meluruskan selentingan tentangmu. Itu saja. Kemudian ku bergumam, hm.. memang kau terlalu sering meremehkan, haha!

Ketika kau mendapatkan laptop baru, kau meremehkannya..

Ketika kau menginap di hotel bintang lima, kau meremehkannya..

Ketika berjalan-jalan ke pulau seraya menyantap berbagai sea food, kau meremehkannya..

Mungkin jika seisi dunia diberikan kepadamu, kau akan tetap bersikap sama, meremehkannya..

Kau memang gila! Semua kau anggap remeh!

Tapi itu yang membuatku sayang padamu Zuh, kau tak pernah menganggap dunia sebagai hal yang menyilaukan. Kau selalu meremehkannya. Kau tak pernah menolak itu semua (dan kupikir kau memang tidak terlalu akrab dengan kesederhanaan). Kau menerimanya sebagai kebutuhan, namun kau tetap meremehkannya. Ah, segalanya terlihat kecil bagimu.

Oiya, masihkah kau ingat doa Umar bin Khattab semasa kita mengaji bersama dulu?

“Ya Allah, jadikanlah dunia dalam tangan-tangan kami dan jangan jadikan dunia dalam hati kami”

Jadikan dunia dalam tangan kami. Ini frase paling terngiang di telingaku. Komitmen kita bersama Zuh, untuk mengelola dunia ini menjadi lebih baik. Di tangan kita. Ya, di tangan kita. Aku sudah tidak anti lagi dengan dunia. Kalau masih anti, siapa yang mau mengurusnya? Segala pernak-pernik dunia kita terima, untuk menjadi tunggangan kita ke akhirat. Indah bukan?

Kemudian, jangan jadikan dunia dalam hati kami. Nah, ini yang ingin kubahas. Sebenarnya aku malu menyampaikannya, hehe.. Namun akhirnya kuberanikan diri. Aku ingin mengajakmu tinggal bersama Zuh. Ada tempat bagimu, yaitu di hatiku. Aku tak ingin hatiku dihuni oleh dunia, karena dia kan harusnya ada di tanganku. Aku hanya ingin ada kamu di hatiku, di sini, di tempat mungil ini. Tak layak kau bermain di tanganku. Nama Zuhud tidak cocok jika disandingkan dengan dunia. Kau tinggal di sini saja ya, jaga hatiku..

Zuh, setelah kau baca fragmen ini, kuharap kau jangan ke mana-mana. Kunci hatiku ada di atas pintu, kau langsung masuk saja dan anggap sebagai rumah sendiri.

Salam hangat sahabatmu.

Ps: Eh, kalau nanti si Dunia main ke hatiku, bilang saja, aku sedang tidak di rumah. Okay? ;)